EMOSI
Galau ketika hunjaman keris kehidupan menusuk terlalu dalam dan tajam sampai membentuk
lubang-lubang di badan kita
Galau ketika dalam sbuah perjalanan kita tak mempunyai sebuah peta ataupun pegangan untuk kita melangkah
Galau ketika pertanyaan pertanyaan jiwa muncil tanpa kita pernah tau apa jawabannya
Galau ketika remasan-remasan tangan kita tidak lagi bercengkerama dalam kehangatan suhu tali sumbu sebuah perhelatan hubungan
mencari sebuah ketenangan juga memang bukanlah semudah membalikkan tangan
Mencari sebuah jawab atas keraguan jiwa juga bukanlah semudah mengedipkan mata kita
mencari sebuah rasa memang bukanlah sekeceil debu-debu yang berterbangan bebas disekitar kita
Aku rapuh oleh korosi angin-angin pantai kehidupan
Aku menangis oleh tekanan-tekanan gempa yang menghimpit tanah jiwaku
aku merintih karena gesekan-gesekan tekanan udara yang menghasilkan petir-petir emosi
Berjuta kata yang tertuang tak pernah mampu mengukur dalamnya sebuah emosi
Dengan kata hanya tertebak permukaan dari setiap emosi yang meradang dalam relung-relung
dan aliran-aliran darah jiwa
Tak pernah bisa kau ledakkan emosi untuk menjadi kobaran atas kemurniannya
Telah banyak campur tangan virus-virus kehidupan yang membuatnya bernanah dan kemudian terasa sebagai bisul-bisul yang mengerogoti pantatmu
Aku telah rela melepaskan semua perasaan cinta dalam kehidupan
Aku ingin menjadi bebas dalam khayangan kemurnian hidup tanpa rasa itu
Rasa yang tak nyana dan tak terdefinisikan secara harfial dihadapan setiap kata-kata tersebut
Rasa yang hanya terasa oleh setiap hari yang mampu untuk menaklukannya
RAsa yang menjejali kekosongan jiwa dengan tawa, tangis, duka, bahagia dan fatamorgana
Rasa yang bisa mencabik dan menyatukan apa yang utuh dan apah yang telah terberai.
Aku sosok pangeran yang berkelana dalam jagad raya
Mencoba menjalani setiap perjalan dengan tenaga yang ada, yang hingga kini
masih mengharapkan sentuhan-sentuhan sejuk yang dapat menyembuhkan luka
Luka dari koreng kehidupan
Luka dari Virus Kebencian
Luka dari dagnostik cinta
Lika dari gesekan-gesekan aspal problema
Luka dari goresan pisau-pisau amarah
Luka oleh herediter harapan
Aku pangeran berkelana dalam emosi jiwa tiada tara
Bermain dan bermimpi dengan anggan-angan
Aku adalah emosi jiwa itu.
Galau ketika hunjaman keris kehidupan menusuk terlalu dalam dan tajam sampai membentuk
lubang-lubang di badan kita
Galau ketika dalam sbuah perjalanan kita tak mempunyai sebuah peta ataupun pegangan untuk kita melangkah
Galau ketika pertanyaan pertanyaan jiwa muncil tanpa kita pernah tau apa jawabannya
Galau ketika remasan-remasan tangan kita tidak lagi bercengkerama dalam kehangatan suhu tali sumbu sebuah perhelatan hubungan
mencari sebuah ketenangan juga memang bukanlah semudah membalikkan tangan
Mencari sebuah jawab atas keraguan jiwa juga bukanlah semudah mengedipkan mata kita
mencari sebuah rasa memang bukanlah sekeceil debu-debu yang berterbangan bebas disekitar kita
Aku rapuh oleh korosi angin-angin pantai kehidupan
Aku menangis oleh tekanan-tekanan gempa yang menghimpit tanah jiwaku
aku merintih karena gesekan-gesekan tekanan udara yang menghasilkan petir-petir emosi
Berjuta kata yang tertuang tak pernah mampu mengukur dalamnya sebuah emosi
Dengan kata hanya tertebak permukaan dari setiap emosi yang meradang dalam relung-relung
dan aliran-aliran darah jiwa
Tak pernah bisa kau ledakkan emosi untuk menjadi kobaran atas kemurniannya
Telah banyak campur tangan virus-virus kehidupan yang membuatnya bernanah dan kemudian terasa sebagai bisul-bisul yang mengerogoti pantatmu
Aku telah rela melepaskan semua perasaan cinta dalam kehidupan
Aku ingin menjadi bebas dalam khayangan kemurnian hidup tanpa rasa itu
Rasa yang tak nyana dan tak terdefinisikan secara harfial dihadapan setiap kata-kata tersebut
Rasa yang hanya terasa oleh setiap hari yang mampu untuk menaklukannya
RAsa yang menjejali kekosongan jiwa dengan tawa, tangis, duka, bahagia dan fatamorgana
Rasa yang bisa mencabik dan menyatukan apa yang utuh dan apah yang telah terberai.
Aku sosok pangeran yang berkelana dalam jagad raya
Mencoba menjalani setiap perjalan dengan tenaga yang ada, yang hingga kini
masih mengharapkan sentuhan-sentuhan sejuk yang dapat menyembuhkan luka
Luka dari koreng kehidupan
Luka dari Virus Kebencian
Luka dari dagnostik cinta
Lika dari gesekan-gesekan aspal problema
Luka dari goresan pisau-pisau amarah
Luka oleh herediter harapan
Aku pangeran berkelana dalam emosi jiwa tiada tara
Bermain dan bermimpi dengan anggan-angan
Aku adalah emosi jiwa itu.


No comments:
Post a Comment